KEREN! Dana Desa Dipakai Sulap Tanah Wingit Ini Jadi Agrowisata

LENSA JATENG – Tanah bengkok seluas 4 hektare di sudut desa Langgongsari, Cilongok Banyumas semula hanyalah lahan tandus yang nyaris terbengkelai. Meski disewakan dengan harga murah, tetap tidak ada warga yang bersedia memanfaatkan tanah tersebut karena berisiko rugi.

Rasim, seorang petani di desa ini berani mengambil risiko untuk menyewa tanah tersebut seluas 1 hektare seharga RP 3,7 juta per tahun. Kemudian lahan ditanami dengan tanaman yang tidak biasa ditanam oleh para petani setempat, berupa tanaman buah dan sayuran.

Selain Rasim, sebagian tanah juga disewa oleh seorang pengusaha untuk pabrik penggilingan batu.

Rasim saat itu sempat berangan, seandainya terpilih menjadi kepala desa Langongsari, ia akan menyulap tanah yang tersia-siakan itu menjadi lebih produktif, bagaimanapun caranya.

Ternyata usai terpilih sebagai kepala desa, Rasim benar-benar membuktikan janjinya. Penerapan program prioritas di awal pemerintahannya adalah mengubah tanah bengkok tadi menjadi sebuah taman agrowisata.

Rasim tak ingin setengah hati untuk menyukseskan programnya. Sejak transfer dana desa meningkat mulai 2015 hingga tahun 2017, ia mengerahkan 90 persen dana desa untuk pengembangan agrowisata. Meski konsekuensinya, alokasi anggaran untuk pembangunan lainnya menjadi ramping. Tahun 2015 dana desa cair Rp 300 jutaan, 2016 Rp 600 jutaan, dan 2017 Rp 900 jutaan. 90 persen dana itu dialokasikan untuk pengembangan agrowisata ini.

Rasim tentu saja sudah kebal dengan omongan miring sebagian masyarakat yang meragukan keberhasilan programnya. Apalagi, program itu hampir menguras habis dana desa. Melalui dana desa dan swadaya masyarakat, pembangunan agrowisata mulai dikerjakan.

Tanah lereng yang semula ditanami singkong diratakan dan diganti dengan ratusan bibit durian, pete, dan pohon kelapa Genjah. Bagian tepi dan tengah lahan dikepras untuk dibuat jalan akses bagi pengunjung taman. Warga membuat lorong buatan dengan melubangi tanah untuk memberi kesan berbeda pada taman tersebut. Taman ditumbuhi bermacam tanaman sayuran dan pepohonan.

Puluhan sapi milik warga sengaja dikelompokkan dan dibuatkan kandang khusus di tengah taman untuk dipertontonkan secara terbuka.

Puluhan pengrajin gula kelapa yang biasanya berproduksi di rumah masing-masing mulai disatukan. Mereka dibuatkan kios produksi yang berjejeran di sisi taman. Pengunjung bisa menyaksikan langsung proses pembuatan gula dari tangan-tangan terampil perempuan desa.

Sebagian lahan di tengah taman digali untuk dibuat kolam yang ditaburi ribuan benih ikan.

Tiga tahun berlalu, ratusan bibit durian itu sekarang tumbuh rimbun dan meneduhkan. Sebagian di antaranya bahkan mulai berbuah meski masih jarang. Aneka tanaman sayuran tumbuh lebat di sela pohon durian. Tanah bengkok yang dulu tersiakan kini jadi pusat perhatian. Kawasan yang dulu wingit dan sunyi sekarang ramai dikunjungi warga. Dan masyarakat terperangah melihat perubahan fisik lahan itu.

Dana desa ternyata tidak hanya bisa digunakan untuk membangun jalan, namun juga dapat dimanfaatkan untuk unit usaha yang bisa mengangkat perekonomian warga.

Anggota Komisi II DPR RI Budiman Sudjatmiko mengapresiasi pemerintah desa Langgongsari yang berani berinovasi dalam memanfaatkan dana desa. Menurutnya, agrowisata yang dibangun menggunakan dana desa ini tidak boleh macet di tengah jalan. Selanjutnya, tugas pengelola BUMDes untuk mengoptimalkan pendapatannya melalui beragam inovasi. Pihaknya mendorong pengelola BUMDes untuk memperkuat kemampuan teknologi agar mudah berjejaring dengan dunia luar. Di era kemudahan akses teknologi komunikasi saat ini, tidak mustahil desa bisa berjejaring dengan daerah lain bahkan luar negeri untuk menggaet semua orang untuk datang. Desa pada umumnya memiliki modal, baik etos kerja masyarakat maupun kekayaan alam yang bisa didorong untuk memajukan perekonomian warga. Dua modal lain yang selama ini kurang dimiliki desa sehingga pembangunannya terhambat adalah dana dan pengetahuan.

Kini, dengan adanya transfer dana desa dari pemerintah, modal dana tak lagi jadi hambatan. Hanya tinggal modal pengetahuan yang belum terbagi ke desa sehingga masyarakat kadang justru kebingungan dalam memanfaatkan dana desa. Banyak kepala desa belum berani memanfaatkan dana desa untuk penguatan BUMDes karena tidak tahu. Seharusnya tidak perlu takut kalau sudah tahu peraturan perihal penggunaan dana desa.

Taman agrowisata Langgongsari ini sebelumnya sempat digadang sebagai taman Revolusi Mental. Kini sesuai penamaannya, taman itu akan menjadi pusat ekonomi masyarakat, sekaligus sekolah teknologi yang umumnya hanya ada di kota besar.

Sumber : Jateng.tribunnews.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *