Merinding! Ini 7 Fakta Tentang Halloween

LENSA JATENG – Pada bulan Oktober di beberapa tempat, ornamen-ornamen Halloween sudah ramai terpasang. Hal ini untuk merayakan Hallowen setiap tanggal 31 Oktober. Tidak hanya itu, sebagian orang pun merayakannya dengan mengadakan acara pesta kostum, permainan, lomba-lomba, dan kegiatan yang menyeramkan lainnya.

Anak-anak berkeliling ke rumah-rumah tetangga sambil mengucapkan “Trick or Treat” yang saat ini diartikan beri kami cokelat atau kami jahili”. Saat ini, anak-anak dibebaskan untuk menjahili rumah orang-orang yang dianggap pelit. Di Indonesia perayaan yang berasal dari budaya barat ini memang hanya dilakukan di kota-kota besar saja, salah satunya di Jakarta.

Nah, berikut adalah beberapa fakta di balik perayaan Halloween, di antaranya :

1. Sudah Ada Sejak Ribuan Tahun Lalu

Perayaan ini dipercaya sudah ada sejak ribuan tahun yang lalu dan diduga pertama kali berlangsung di Irlandia. Sejak abad ke-16, orang-orang mulai rutin melakukan tradisi berjalan-jalan ke rumah tetangga menggunakan kostum sambil menyanyi untuk mendapatkan makanan. Tapi saat itu belum ada tradisi teriakan “Trick or treat!” untuk meminta permen seperti sekarang.

2. Dulunya Disebut Festival Samhain

Aslinya, Halloween ini merupakan festival kuno yang dinamakan Samhain dan dilakukan oleh etnis Gael. Festival ini dilakukan untuk merayakan musim panen yang telah berakhir. Nah, etnis Gael tersebut memiliki kepercayaan bahwa tanggal 31 Oktober adalah hari perbatasan antara dunia nyata dan kematian. Lalu, mereka juga percaya bahwa arwah-arwah akan datang ke dunia untuk membuat malapetaka bagi orang-orang yang masih hidup. Oleh sebab itu, etnis Gael berusaha melawan dan menakuti arwah gentayangan itu dengan menggunakan kostum dan topeng.

3. Warna Khas Halloween

Warna hitam dan oranye lebih sering terlihat saat Halloween. Ini karena warna oranye dipercaya sebagai simbol kekuatan dan daya tahan. Sedangkan warna hitam dianggap sebagai simbol kematian dan kegelapan. Dua warna ini juga sekaligus menandakan sebuah festival yang menandai perbatasan antara dunia nyata dan kematian.

4. Bisa Melihat Penyihir

Orang-orang yang ingin melihat penyihir sungguhan bakal menantikan Halloween tiba. Konon katanya ada cara ampuh untuk mewujudkan keinginan tersebut. Yaitu menggunakan pakaian terbalik lalu berjalan mundur di hari Halloween. Menurut tradisinya, cara tersebut akan membuat kita bisa melihat penyihir saat tengah malam. Hi…!

5. Perayaan Terbesar ke-3

Di Amerika, perayaan Halloween ini adalah pesta terbesar ke-3 sepanjang tahun setelah Tahun Baru dan pesta olahraga Superbowl Sunday.

6. Masa Lalu Religius

Fakta lainnya salah satu aspek liburan yang tampak remeh ini punya masa lalu yang religius. Orang-orang Kristen pada abad pertengahan punya tradisi melakukan perayaan itu pada Hallowtide, malam All Saints’ Day. Pada saat itu orang-orang miskin mengunjungi rumah orang-orang kaya dan menawarkan doa bagi anggota keluarga yang baru meninggal dunia. Dengan lebih banyak doa, jiwa diyakini akan lebih selamat, jelas ahli sejarah Nicholas Rogers, penulis Halloween: From Pagan Ritual to Party Night.

Demikian menurut artikel yang disiarkan laman Time seperti dilansir ANTARA.

Fakta lainnya, banyak kostum Halloween inspirasinya berasal dari ritual yang sama. Misalnya, sering kali pengunjung akan datang memegang lentera yang dibuat dari lobak yang dilubangi dengan lilin di dalamnya, yang merepresentasikan jiwa dalam api penyucian. Mereka mengadakan misa agar jiwa-jiwa tersebut tidak merasa diabaikan sehingga menghantui orang yang masih hidup.

Sejarawan abad pertengahan Inggris bernama John Stow melaporkan bahwa kostum samaran dan topeng, dan kadang grup kur berdandan dengan kostum calon pengantin, menggambarkan pernikahan yang akan menghasilkan lebih banyak kelahiran untuk menambah populasi orang Kristen. Tetapi, setelah Reformasi Protestan gagasan menyelamatkan jiwa dengan cara ini mulai tidak populer. Namun beberapa penganut Katolik masih melakukan kunjungan dari rumah ke rumah pada malam All Saints’ Day. Tahun 1840an, gelombang imigran Irlandia dan Skotlandia membawa tradisi itu ke Amerika Serikat. Orang-orang muda berdansa di luar rumah sewaan sebagai balasan atas hadiah yang mereka terima, lalu berkembang menjadi pesta. Kostum-kostum dibuat dari baju lama, wajah diwarnai dengan penyumbat minuman yang dibakar, sementara permainanannya meliputi saling memukul dengan kantung berisi tepung dan memasukkan kubis ke cerobong asap. Orang Katolik Irlandia menghadapi prasangka dari kekuatan penduduk asli di tanah baru mereka, perayaan ini akhirnya terlepas dari ritual agama dan menjadi budaya populer.

7. Istilah Trick-or-Treating

Ketika para imigran mulai berasimilasi, temuan dokumen koran melaporkan kostum menjadi tren di kalangan siswa abad 19. Awal 1900an, sekolah dan klub populer mulai mengadakan pesta Halloween, dan sejak itu muncul buku panduan untuk perayaan semacam itu. Tahun 1930an, Amerika Utara punya istilah baru untuk tradisi lama itu: trick-or-treating. Dan saat suburbanisasi tumbuh tahun 1950an, Trick or Treat berkembang menjadi jamuan bagi anak-anak seperti yang dikenal saat ini.

Sumber : Tribunjateng.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *