Ternyata Terdapat Jejak Sunan Kalijaga di Tanah Mrapen

LENSA JATENGMrapen adalah sebuah kompleks wisata yang terletak di desa Manggarmas, kecamatan Godong, kabupaten Grobogan, Jawa Tengah. Kawasan ini terletak di tepi jalan raya Purwodadi – Semarang, berjarak 26 km dari Kota Purwodadi. Kompleks api abadi Mrapen merupakan fenomena geologi alam berupa keluarnya gas alam dari dalam tanah yang tersulut api sehingga menciptakan api yang tidak pernah padam walaupun turun hujan sekalipun.

Keberadaan Mrapen tak lepas dari sejarah perjalanan Sunan Kalij aga, setelah runtuhnya Kerajaan Majapahit sekitar abad ke-XV silam, yang kemudian dikuasai oleh Kerajaan Demak Bintoro.

Atas penguasaan itu, maka benda-benda sisa Kerajaan Majapahit dibawa ke Demak. Pengangkutan benda-benda kerajaan tersebut dipimpin oleh Sunan Kalijaga. Dalam perjalanan menuju Demak, rombongan mulai kelelahan. Sunan Kalijaga memutuskan untuk beristirahat di suatu tempat.

Di tempat tersebut, pengikut Sunan Kalijaga berusaha membuat masakan dari bekal bahan-bahan mentah yang mereka bawa. Namun mereka tak menemukan api dan air bersih, sebab tempat peristirahatan tersebut jauh dari pemukiman.

Menurut Juru Kunci Mrapen, Gunadi, saat itu Sunan Kalijaga dibantu oleh beberapa pengikutnya berdoa kepada Allah SWT agar diberikan api dan air. Setelah berdoa Sunan berdiri menancapkan tongkat ke tanah. Setelah dicabut keluarlah api yang menyembur dari dalam tanah. Inilah yang sampai saat ini disebut Mrapen.

Setelah mencabut tongkat, Sunan Kalijaga berjalan ke arah timur. Mencapai sekitar 50 meter, ia kembali menancapkan tongkatnya. Kemudian tongkat dicabut dan keluarlah air jenih dari dalam tanah yang kini disebut Sendang Dudo.

Dikisahkan, Sunan Kalijaga beserta pengikutnya bisa memasak, beristirahat, dan menyantap makanan hasil masakan memakai air dan api dari cabutan tongkat yang menancap. Setelah beberapa saat, perjalanan akan kembali dilanjutkan.

Namun, salah seorang pengikut merasa keberatan dengan barang bawaan berupa umpak atau landasan tiang. Mengetahui hal itu, Sunan Kalijaga memerintahkan pengikutnya untuk meninggalkan umpak. Hingga kini batu umpak tersebut dijuluki Batu Bobot karena berat.

Setelah sampai di Kerajaan Demak, Sunan Kalijaga memerintahkan salah seorang pengikutnya yakni Empu Supo, untuk membuatkan sebilah keris. Sunan meminta pembuatan keris bertempat area dimana tersedia api untuk membakar, batu sebagai landasan menempa, dan air untuk menyepuh (mencelupkan) keris setelah dipanaskan. Berangkatlah Empu Supo menuju tempat dimana terdapat ketiga elemen tersebut dengan jarak berdekatan.

Sampai akhirnya Empu Supo di tempat yang pernah digunaan Sunan Kalijaga bersama pengikutnya beristirahat saat melakukan perjalanan dari Kerajaan Majapahit. Kemudian Empu Supo mulai membuat keris yang diberi nama Keris Kyai Sengkelat.

Diceritakan dalam pembuatan keris itu Empu Supo tidak mengunakan palu untuk memukul logam hingga menjadi keris. Melainkan hanya ditekan-tekan mengunakan tangan. Untuk mendinginkannya, ia mencelupkan keris tersebut ke dalam Sendang Dudo.

Gunadi menambahkan, bahwa itulah sebabnya saat ini air di Sendang Dudo terlihat keruh dan bergelembung. Karena dulu digunakan Empu Supo untuk mencelupkan keris saat dalam kondisi panas sehingga terlihat seperti air mendidih.

Dudo sendiri berasal dari kata diduduk yang dalam Bahasa Indonesia berarti digali. Zaman dulu laki-laki nginang (mengunyah tembakau – red). Jadi saat melafalkan duduk menjadi dudo.

Pada zaman modern ini, Mrapen telah menjadi tujuan wisata di Kabupaten Grobogan. Sejak beberapa waktu lalu, tempat wisata ini dikelola oleh Dinas Kepemudaan, Olahraga dan Pariwisata (Disporapar) Jawa Tengah. Untuk memasuki kawasan wisata api abadi tersebut hanya dikenakan retribusi sebesar Rp 2.500. Di kawasan tersebut juga tersedia berbagai fasilitas seperti kamar mandi yang bersih, juga ada mushala bagi yang akan menunaikkan sholat.

Menurut Wikipedia, telah banyak peristiwa besar mengambil api dari kompleks api abadi Mrapen sebagai sumber obornya, misalnya pesta olahraga internasional Ganefo I tanggal 1 November 1963, untuk menyalakan obor Pekan Olahraga Nasional (PON) mulai PON X tahun 1981, POR PWI tahun 1983 dan HAORNAS. Api abadi dari Mrapen juga digunakan untuk obor upacara hari raya Waisak.

Sumber : Metrojateng.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *