Eksotis, Pasar Papringan pikat hati wisman Bangkok hingga Amerika

LENSA JATENG – Komunitas Mata Air membuka secara perdana sebuah lokasi perdagangan dengan konsep tradisional yang cukup unik bernama ‘Pasar Papringan’ di Dusun Ngadiprono Desa Ngadimulyo Kecamatan Kedu Kabupaten Temanggung.

Ketua Komunitas Mata Air, Imam Abdul Rofik menyebutkan, konsep membuat sebuah pasar di bawah rimbunan vegetasi tanaman bambu ini sebenarnya terinspirasi oleh pasar papringan yang sebelumnya pernah digelar di Dusun Kelingan Desa Caruban Kecamatan Kandangan beberapa waktu sebelumnya.

Diselenggarakan di atas lahan bambu seluas 2.500 meter persegi, pasar ini hanya akan buka setiap Minggu Wage dan Pon saja, mulai pukul 6.00 sampai 12.00 WIB. Tak hanya sebagai upaya konservasi alam, terutama vegetasi tanaman bambu, pasar papringan juga ditujukan untuk mengangkat segala kearifan lokal masyarakat sekaligus merangsang pertumbuhan ekonomi warga setempat.

Dijelaskan bahwa dulu tempat ini hanya digunakan oleh warga sebagai lokasi pembuangan sampah. Nah, bermula dari rasa kepedulian, akhirnya disulaplah menjadi pasar papringan.

Di dalam pasar ini, terdapat 42 lapak dagangan yang dijalankan mayoritas oleh warga dusun mulai olahan kuliner khas, hasil pertanian, hingga kerajinan produksi lokal masyarakat. Uniknya, pengunjung dan pedagang diwajibkan bertransaksi menggunakan kepingan uang berbentuk persegi panjang yang terbuat dari bambu. Setiap keping bernilai Rp 2.000 yang dapat ditukarkan di berbagai titik di dalam komplek pasar papringan.

Ada yang menjual nasi jagung, mangut, jamu, dawet anget khas Ngadiprono, jajanan pasar, serta yang paling khas adalah makanan bernama Nglemeng. Yaitu campuran ubi dan gula merah yang dimasukkan ke dalam batang bambu dan dimasak dengan cara dibakar. Harganya macam-macam, ada yang 1 keping dan seterusnya. Semua ini untuk memperkenalkan kekayaan produk lokal masyarakat dusun.

Di hari pertama pembukaan, pasar ini mampu menyedot animo sekitar 1.000 pengunjung. Mereka berasal dari Temanggung dan sekitarnya, luar daerah seperti Bali dan Surabaya, hingga wisatawan manca negara. Di antaranya Thailand, Amerika Serikat, dan Jepang.

Bupati Temanggung, Bambang Sukarno yang hadir dalam pembukaan berharap inspirasi-inspirasi seperti ini dapat terus dikembangkan oleh masyarakat agar mampu menggerakkan perekonomian berbasis kerakyatan serta dapat menjadi contoh bagi yang lainnya.

Di sisi lain, Singgih S Kartono, selaku pendamping penyelenggara menyebut dipilihnya konsep pasar bambu lantaran sejauh ini rumpun bambu di berbagai wilayah pedesaan sangat rentan digusur, lantaran dianggap sebagai lokasi yang kotor, banyak sampah, dan dipenuhi nyamuk. Namun demikian, sejatinya bambu memiliki nilai estetis tinggi sekaligus beragam manfaat. Mulai penghasil oksigen, menyuburkan tanah, bahan material bangunan, hingga mengandung keterikatan psikis yang kuat dengan masyarakat desa. Pihaknya berharap kebun bambu kembali dicintai masyarakat, menghidupkan nilai sosial, sekaligus memberikan nilai ekonomis tinggi. Apalagi bambu di Indonesia sangat istimewa karena tumbuh berumpun, dan memberikan celah ruang untuk beraktifitas. Berbeda dengan di luar negeri seperti China, di mana bambu tumbuh sendiri-sendiri sehingga sangat rapat.

Selain mengajarkan para pedagang untuk menyajikan makanan berkualitas dari segi harga, rasa, dan visual, diselenggarakannya pasar papringan juga memberikan berkah bagi pemilik lahan. Mereka mendapat retribusi pendapatan Rp 10.000 dari masing-masing lapak yang ada.

Sumber : Jateng.merdeka.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *